Selasa, 06 Desember 2011

Saya Tuhan dan Agama
            Setiap orang memiliki pendapat masing-masing mengenai apa dan siapa itu Tuhan. Bagi saya Tuhan adalah yang membentuk dengan sempurna tiap anggota tubuh saya, meniupkan nafas kehidupan untuk saya, membiarkan saya hidup dengan menguasai emosi dan hati saya sendiri. Mengetahui hal tersebut sangat pantas bagi saya untuk selalu bersyukur disetiap saat, karena saya mampu hidup dengan kebesaran dan kehebatan buatan tanganNya. Ya, saya buatan asli tanganNya. Apakah ada manusia yang membentuk manusia? Atau manusia terbentuk dengan sendirinya? Dengan segala kesempurnaan aliran darah, sistem pencernaan, sistem pernafasan, fungsi otak dan banyak lagi yang terdapat dalam tubuh tiap manusia. Saya yakin saya hadir di dunia bukan dengan ketidak sengajaan namun dengan rencana yang sempurna yang dibuat Tuhan. Tak perlu saya mencari jawaban keberadaan Tuhan hingga jauh menjelajahi dunia karena saya sendiri adalah saksi keberadaan Tuhan, keajaiban terbesar yang Ia buat dan rancang dengan sempurna. Tuhan ada maka saya ada. Ya, bagi saya Tuhan ada. Dengan pengetahuan yang saya dapat setelah mempelajari tentang berbagai agama dan pengertiannya sendiri dalam mata kuliah Humanistic Studies, saya mampu dengan tegas berkata Tuhan itu ada! Dan saya percaya akan keberadaanNya.
            Tak dapat dipungkiri saya juga mendapat berbagai perbedaan pendapat tentang keberadaan Tuhan setelah mempelajari tentang filosofi agama yang diberikan oleh para filsuf. Satu pendapat yang ingin saya kutip adalah pendapat mengenai perspektif Tuhan yang dikemukakan oleh Freud mengenai teori psikoanalisisnya. Freud mengungkapkan, Tuhan adalah sosok yang diciptakan oleh seseorang yang tercipta atas ketakutan yang sangat besar akan sesuatu sehingga figur Tuhan tercipta sebagai tempat untuk mengadu. Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Freud, saya melihat kerasionalan yang terdapat di dalamnya. Seringkali manusia merasakan kehadiran Tuhan yang sangat luar biasa ketika suatu kesulitan atau masalah hidup tak mampu lagi dibendung. Tak ada yang mampu mengatakan dengan pasti pendapat Freud benar atau salah. Yang perlu diambil dari apa yang Freud pikirkan dan kemukakan adalah bahwa kehadiran Tuhan memiliki berbagai arti bagi setiap individu manusia. Dan arti dari kehadiranNya bukan suatu hal yang mampu diperdebatkan, namun boleh diungkapkan. Seperti cara Freud berpikir mengenai Tuhan, Salahkah apa yang dipikirkan Freud? Apakah Freud mencoba menantang Tuhan (bagi kita para Theist) dengan kerasionalannya? TIDAK. Tidak ada yang salah dengan rasionalitas manusia, Tuhan yang membiarkan kita mengendalikan hati dan pikiran kita sendiri, pasti ada tujuan kuat mengapa Tuhan membiarkan kita mengendalikan hati dan pikiran kita, dan pasti bukan suatu hal dibuat dengan keisengan semata. Ada keyakinan dalam hati saya bahwa Tuhan ingin dicari, digali tentang keberadaannya, dan dikejar kemisteriusannya.  Saya sangat menyukai pernyataan Ahmad Wahib bahwa,  “Tuhan bukanlah daerah”. Jika ingin mencari keberadaanNya, maka carilah.
            Seperti yang telah saya ungkapkan bahwa saya adalah seorang yang mempercayai Tuhan, yang sampai saat ini masih mengejar keberadaan Tuhan untuk memuaskan keinginan tahuan saya. Setelah saya mempercayai keberadaan Tuhan lalu apa yang saya lakukan? Saya memperlakukan keberadaan Tuhan dengan bersyukur kepadaNya terhadap apa yang sudah diberikan terhadap saya, meminta kebijaksanaan dariNya untuk mampu memakai dan mengatur apa yang sudah dipercayakan Tuhan bagi saya, memanfaatkan dan menggunakan dengan baik apa yang telah saya miliki sekarang, bekerja dengan baik, belajar dengan baik dengan pertimbangan bahwa Tuhan menilai dan melihat setiap pekerjaan yang saya lakukan atas dasar syukur kepada segala pemberianNya.
            Bagi saya Tuhan yang dimaksudkan setiap agama dan kepercayaan adalah satu, yaitu Tuhan yang menciptakan manusia. Dalam Kristen disebut Tuhan Yesus Kristus, dalam islam disebut Allah SWT, dalam budha disebut Siddhartha Gautama, dan lain sebagainya. Manusia memberikan nama yang berbeda dan pengajaran yang berbeda mengenai Tuhan. Namun tujuan setiap agama adalah sama, yaitu kepada Dia yang menciptakan manusia, Dia yang menciptakan langit dan Bumi, kepada Dia yang memiliki kuasa atas alam semesta.
            Tuhan memang suatu yang tak tersentuh oleh akal dan pemikiran manusia. Saya menggambarkan Tuhan sebagai suatu yang kekal, satu, suci, dan tak tersentuh. Sebenarnya saya tak ingin mendefinisikan Tuhan dengan pemikiran saya, saya ingin mendefinisikannya berdasarkan apa yang telah ukir di dunia yang dapat saya lihat dan temui setiap harinya. Contohnya manusia dengan kehebatan sistem didalam tubuhnya, juga tumbuhan dan hewan, tata surya dengan perputaran planet yang seakan telah diatur berputar dengan sumbu tanpa bertabrakan, dan banyak lagi. Jadi saya mengenal Tuhan dengan apa yang Ia biarkan untuk saya lihat dan saya kenali. Itulah Tuhan.


Selasa, 01 November 2011

Nama : Jenni Farida
ID : 2010110003
Identitas Saya Yang Sebenarnya
            Saya adalah seorang wanita. Benarkah? Ya tentu saja. Tapi apakah wanita itu? Apakah menjadi wanita adalah sebuah pilihan? Dan apa sebenarnya wanita menurut pemahaman saya?
            Wanita adalah sosok yang kerap kali dianggap lemah, karena itu menurut beberapa persepsi  wanita perlu dilindungi. Namun menurut saya persepsi tentang wanita sudah sangat melenceng dari jalurnya, baik dari pemikiran para pria ataupun wanita itu sendiri.  Contoh kecil yang sering kali saya temui adalah ketika dalam angkutan umum. Pria sering menganggap wanita lemah tapi ketika melihat seorang ibu hamil, orang dengan keterbatasan fisik, ataupun orang lansia untuk berdiri dan memberikan tempat duduk mereka saja tidak mau. Biasanya pria yang seperti ini hanya pura-pura tidak lihat atau tidak dengar. Saya seorang wanita, dan saya dapat dengan senang hati memberikan tempat duduk saya bagi mereka yang saya anggap lebih layak duduk dari pada saya. Jadi apakah saya sebagai wanita merupakan lemah? TIDAK. Menjadi wanita memang bukan merupakah pilihan, saya menemukan identitas ini sejak saya dilahirkan dengan bentuk sebagai wanita. Namun hal terpenting disini adalah apakah anda sebagai wanita sudah melakukan tugas anda sebagai wanita? Wanita bagi saya adalah simbol dari kelemah lembutan hati, kehangatan, kecerdasan, keperdulian, kekuatan, dan perlindungan. Kelemah lembutan hati bukan berarti wanita itu ‘lembek’ tapi masalah emosi wanita mampu lebih cepat menangkap sinyal marah, sedih, kecewa yang ditunjukkan oleh orang yang ada dihadapannya. Kehangatan adalah hasil dari kelemah lembutan hati, sehingga dengan itu wanita menjadi lebih mudah mengerti perasaan orang lain dan mengerti bagaimana harus menempatkan diri. Kecerdasan berarti kemampuan yang dimiliki wanita untuk mampu memutuskan dengan pertimbangan matang dari hati dan pikiran. Keperdulian berarti wanita memiliki kemampuan untuk lebih memperhatikan apa yang ada disekitar mereka. Kekuatan berarti kemampuan untuk melakukan sesuatu lebih, kekuatan ini merupakan kekuatan jiwa untuk selalu peduli tidak mudah dihancurkan semangatnya dan bagi yang sudah berkeluarga wanita adalah penopang bagi suami dan anak-anaknya untuk dapat mepertahankan kekokohan rumah tangga yang rukun.
            Saya sebagai seorang umat beragama Kristen. Identitas ini juga melekat dalam diri saya sejak saya lahir. Namun apakah agama itu? Mengapa agama ada begitu banyak dan dari semua agama tersebut mengapa saya harus beragama Kristen?
            Kristen berarti pengikut kristus. Dalam kepercayaan Kristen, Kristus adalah pencipta semesta alam , yang memberi nafas kehidupan, dan yang sampai saat ini selalu mengalirkan berkatnya setiap hari. Jadi apakah agama sebenarnya? Secara teoritis agama adalah suatu kepercayaan yang di anut oleh seseorang. Tentu saja bila ditanyakan mengenai agama secara individual akan muncul banyak pendapat. Bagi saya sendiri, saya pun baru saja menemukan apa itu agama sebenarnya, agama adalah cara ternyaman seseorang untuk berhubungan dengan Tuhan dan mendapatkan kepuasan hati dan jiwa. Dahulu saya sering bertanya kepada diri saya sendiri. Mengapa saya beragama Kristen? Apakah karena orang tua saya juga beragama Kristen? Dulu pernah ada yang menanyakan saya hal tersebut kepada saya, karena saya belum menemukan jawaban yang sebenarnya saya hanya menjawab “orangtua saya Kristen jadi saya Kristen”. Saya pun berlalu meskipun saya tau orang tersebut seperti tidak puas dengan jawaban saya. Hal ini sering menjadi perdebatan dalam diri saya. Mengapa harus Kristen? Namun saya akhirnya menyadari bahwa menjadi seorang Kristen bukan pilihan orang tua saya, tapi pilihan saya. Dengan beribadah ke gereja, berdoa, dan membaca alkitab membuat saya mendapatkan kepuasaan hati dan ketenangan jiwa yang hanya saya dapatkan setelah beribadah. Inilah yang menjadi alasan kuat saya yakin bahwa saya beragama Kristen adalah pilihan saya dan bukan orang tua saya.
            Begitu pula dengan teman – teman lain yang sedang dalam kebingungan mencari identitasnya. Tetaplah mencari dan jangan terpengaruh stereotype yang muncul disekitarmu, justru munculkanlah stereotype baru mengenai identitas yang kamu yakini. Beritahu sekitarmu melalui dirimu arti sebenarnya dari seorang wanita ataupun pria. Seorang Kristen ataupun Muslim atapun Hindu ataupun Budha.  Selamat mencari identitasmu. =)

Selasa, 04 Oktober 2011

Arti Nama Jenni Farida


Apa Arti dari Nama Saya ?

          Jenni Farida, demikian nama lengkap yang diberikan oleh kedua orang tua saya. Sederhana memang tapi saya cukup menyukainya, setidaknya saat saya mengerti arti sesungguhnya dari nama yang diberikan kepada saya.
       Jenni adalah nama yang diberikan oleh ibu saya. Alasannya karena ibu senang dengan nama itu, seperti nama orang barat katanya. Mama memang penggemar musik barat dan cukup pandai berbahasa inggris. Saya pernah bertanya, mengapa tidak memakai nama dengan bahasa batak? Bukannya nama mama pun diambil dari bahasa batak? (Ida Rohana yang artinya Lihat hatinya). Setelah mendengar penjelasannya ternyata mama memang menyukai nama dengan bahasa batak namun tidak ada salahnya memakai nama dari kebudayaan lain. “Tidak harus orang batak memiliki nama orang batak, ya kan?” Jawab mama. Jadi nama depan saya diambil karena ibu saya ingin saat orang mendengar nama saya tidak langsung mengetahui siapa saya sebenarnya.
       Farida adalah nama yang diberikan oleh ayah saya. Nama farida diambil diambil dari nama ibu saya “ida”  dan diubah menjadi farida. Memiliki nama seperti ibu saya merupakan suatu hal yang menyenangkan bagi saya. Karena bagi saya ibu adalah pahlawan, ia orang yang pertama saya kenal dan saya teladani sampai saat ini. Ia seorang yang sangat mahir dalam banyak hal, menjadi seorang ibu rumah tangga, seorang guru, dan seorang istri. Kelak saya akan menjadi yang lebih baik dari ibu saya. Nama farida juga memperlihatkan rasa cinta ayah untuk ibu. Ayah lebih memilih menjadikan nama ibu sebagai bagian dari nama saya dari pada namanya sendiri. Manis bukan?
       Jenni Farida, saya sangat menyukai nama yang diberikan kepada saya. Alasan pertama adalah karena nama bagi saya nama adalah hadiah yang diberikan oleh orang tua saya dari saya lahir sampai kembali kepada Yang Maha Kuasa. Nama itulah yang akan tertulis dengan indah di makam saya nantinya . Manis sekali hadiah itu. Tak pernah saya berpikir untuk mengubah nama saya, saya sangat menyukai nama saya. Kelak saya akan membuat orang – orang yang pernah mengenal saya selalu tersenyum ketika mengingat nama saya. Jenni Farida. 
       Nama Jenni Farida bagi saya sangat cocok dengan saya. Selain karena nama tersebut terdengar manis sangat diucapkan, artinya juga selalu mengingatkan saya akan ibu saya. Membuat saya selalu mengingat bahwa saya harus menjadi seorang wanita yang lebih baik darinya.

Selasa, 27 September 2011

Essai 1- Mengapa Humanistic Studies?

                        Mengapa harus ada perbedaan keyakinan (agama) di dunia ini? Sering kali saya berpikir mungkin akan lebih indah dan tenteram bila saja kita semua memiliki satu keyakinan yang sama, cara ibadah yang sama, pemahaman yang sama. Tapi kenyataannya di dalam sebuah agama pun masih ada perpecahan atau perbedaan pendapat tentang ajaran maupun cara beribadahnya. Lalu apa maksud dari semuanya?
            Saya seorang kristiani yang menurut jumlahnya mendapat predikat minoritas di Indonesia. Ini bukan masalah besar bagi saya. Namun ini mulai menjadi masalah saat saya beranjak dewasa, dan mulai mengerti keadaan diluar sana. Isu tentang agama, perpecahan, perusakan tempat ibadah, semua membuat saya mulai merasa terancam.Saya merasa mulai banyak tekanan yang begitu banyak dari sekitar saya yang membuat saya bingung tentang apa arti sebenarnya dari agama.
            Saya ingat pernah ada teman yang dilarang keras oleh orang tuanya untuk bermain dengan saya, ibunya berkata suku (batak) saya memakan makanan yang haram baginya, jadi tidak boleh dekat-dekat. Saya sedih mendengar itu tapi itu berlalu begitu saja. Namun jika dipikirkan saat sekarang ini, hal itu cukup menyakitkan rupanya. Mengapa orang tuanya mengajarkan seperti itu? Apakah itu benar? Atau salah? Lalu apa yang harus saya perbuat?
            Saya senang bekerja dengan siapa saja, suku apa saja, agama apa saja yang penting dia juga mampu menghargai saya seperti saya menghargai mereka. Perbedaan bukan suatu masalah, justru bagi saya perbedaan harus dijadikan alasan untuk bersatu. Keberagaman itu akan menjadi luar biasa bilasaja mampu memiliki ikatan yang kokoh untuk tetap bersatu.Karena sampai kapanpun perbedaan akan selalu ada, dan karena perbedaanlah manusia bisa saling melengkapi.
            Dalam pelajaran Humanistic Studies saya akan mendapatkan pengetahuan tentang isu mengenai agama dan budaya.Awalnya saya pikir mata kuliah iniadalah sebuah mata kuliah yang belajar tentang sosial budaya secara umum. Ternyata dugaan saya salah. Mata kuliah ini bahkan membahas jauh sekali dari apa yang saya bayangkan.
            Humanistic Studies mengangkat topik yang sangat beresiko untuk  dibicarakan di Indonesia. Mengapa? Karena topik ini terlalu sensitif untuk disentuh dan terkadang dapat menimbulkan persepsi yang salah. Mengetahui akan hal ini dalam hati saya bergidik, “ngeri sekali, mengapa hal seperti ini bisa jadi mata kuliah?”
            “Persiapkan diri anda karena pelajaran ini akan mengorek emosi dan perasaan anda” ucap dosen saya. Mendengar itu perasaan saya semakin campur aduk. Sejujur – jujurnya saya  sungguh sungguh tidak ingin berada di kelas ini. Ini terlalu beresiko untuk dibahas. Saya takut akan apa yang saya akan dengar, saya takut akan apa yang harus saya ucapkan nanti, saya takut ini semua berjalan dengan tidak baik. Mengapa saya berpikiran seperti ini?
                Namun, hari ini ada kejadian di kampus yang membuat saya berpikiran lain. Seorang teman datang kepada saya (seorang muslim) dan berkata “duduk dulu disini”. Saya pun duduk disampingnya.
                “Sudah dengar gereja yang di bom di Solo?”tanyanya serius.
                “iya sudah” jawab saya sambil tersenyum.
                “Lalu apa yang kamu pikir?” dia bertanya lagi.
            Saya hanya tersenyum dan berkata “yasudah , memang sudah terjadi. Tidak ada yang saya pikirkan” Saya melihat wajah teman saya semakin menunjukkan kecemasan.
                Kemudian saya bertanya lagi “memang ada apa?”. 
                “Apa kamu berpikir itu ulah orang muslim?”.
                Sambil menarik nafas saya menjawab “saya tidak berpikir begitu”.
                Mendengar itu dia lega. Dia pun bercerita panjang lebar tentang pendapatnya mengenai bom di Solo itu. Saya tercengang dengan apa yang dia katakan. Ternyata dia peduli terhadap perasaan saya, ini sangat menyentuh saya. Akhirnya saya berucap “senang bisa mendengar ini darimu, terimakasih telah mengatakannya” .
                Apa yang dikatakan teman saya membuat saya merasa damai mendengarnya, lalu saya katakan “Saya tidak tau siapa yang mem-bom gereja di Solo tapi SEKALIPUN  itu adalah seorang muslim saya tau bahwa kejahatan itu datang dari orangnya dan bukan agamanya. Karena semua agama tidak ada yang mengajarkan kejahatan.
                Setelah pembicaraan itu seperti ada letupan letupan kecil di hati saya yang membuat saya merasa bersemangat. Saya berpikir bahwa sebenarnya kami semua saling mengasihi di dalam keberagaman namun kerena perbuatan beberapa pihak yang ingin mengadu domba sering kali membuat ikatan diantara kami semakin renggang bahkan nyaris putus. Ingin sekali saya mendengar kejujuran-kejujuran seperti ini dilain waktu, hal ini membuat saya tidak sabar untuk mengungkapkan bahwa saya juga mengasihi mereka di dalam keberagaman.
                Mungkin kejujuran seperti yang teman saya lakukan akan terlihat saat pelajaran humanistic studies. Melalui mata kuliah ini saya berharap dapat menjadi pribadi yang mampu memahami keberagaman lebih dalam lagi dan menjadikan semua itu sebagai alasan untuk bersatu. Secara umum saya juga berharap akan terjalin keharmonisan yang lebih lagi diantara kita semua.
                Sebagai calon guru masa depan saya juga berharap pengetahuan yang saya dapat di Humanistic Studies dapat membantu saya mengenal lebih dalam mengenai murid-murid saya. Tentu nantinya murid murid saya akan datang dari berbagai agama, suku, dan budaya. Sehingga dengan ilmu yang saya dapat nanti saya berharap nantinya murid saya bisa nyaman dan tidak merasa di beda-bedakan oleh saya.

Sabtu, 24 September 2011

Iam as a new comer

Haiii!!
Setelah sekian lama niat buat blog akhirnya baru jadi sekarang.
Didorong oleh tugas-tugas kampus yang 'maksa' memanfaatkan blog untuk pembuatan tugas,
dan niat untuk 'pamer' kegiatan gue yang unik, asik, mungkin jarang di kerjakan orang.hahaha
oke deh,salam kenal semua!! God Bless ^_^