Selasa, 27 September 2011

Essai 1- Mengapa Humanistic Studies?

                        Mengapa harus ada perbedaan keyakinan (agama) di dunia ini? Sering kali saya berpikir mungkin akan lebih indah dan tenteram bila saja kita semua memiliki satu keyakinan yang sama, cara ibadah yang sama, pemahaman yang sama. Tapi kenyataannya di dalam sebuah agama pun masih ada perpecahan atau perbedaan pendapat tentang ajaran maupun cara beribadahnya. Lalu apa maksud dari semuanya?
            Saya seorang kristiani yang menurut jumlahnya mendapat predikat minoritas di Indonesia. Ini bukan masalah besar bagi saya. Namun ini mulai menjadi masalah saat saya beranjak dewasa, dan mulai mengerti keadaan diluar sana. Isu tentang agama, perpecahan, perusakan tempat ibadah, semua membuat saya mulai merasa terancam.Saya merasa mulai banyak tekanan yang begitu banyak dari sekitar saya yang membuat saya bingung tentang apa arti sebenarnya dari agama.
            Saya ingat pernah ada teman yang dilarang keras oleh orang tuanya untuk bermain dengan saya, ibunya berkata suku (batak) saya memakan makanan yang haram baginya, jadi tidak boleh dekat-dekat. Saya sedih mendengar itu tapi itu berlalu begitu saja. Namun jika dipikirkan saat sekarang ini, hal itu cukup menyakitkan rupanya. Mengapa orang tuanya mengajarkan seperti itu? Apakah itu benar? Atau salah? Lalu apa yang harus saya perbuat?
            Saya senang bekerja dengan siapa saja, suku apa saja, agama apa saja yang penting dia juga mampu menghargai saya seperti saya menghargai mereka. Perbedaan bukan suatu masalah, justru bagi saya perbedaan harus dijadikan alasan untuk bersatu. Keberagaman itu akan menjadi luar biasa bilasaja mampu memiliki ikatan yang kokoh untuk tetap bersatu.Karena sampai kapanpun perbedaan akan selalu ada, dan karena perbedaanlah manusia bisa saling melengkapi.
            Dalam pelajaran Humanistic Studies saya akan mendapatkan pengetahuan tentang isu mengenai agama dan budaya.Awalnya saya pikir mata kuliah iniadalah sebuah mata kuliah yang belajar tentang sosial budaya secara umum. Ternyata dugaan saya salah. Mata kuliah ini bahkan membahas jauh sekali dari apa yang saya bayangkan.
            Humanistic Studies mengangkat topik yang sangat beresiko untuk  dibicarakan di Indonesia. Mengapa? Karena topik ini terlalu sensitif untuk disentuh dan terkadang dapat menimbulkan persepsi yang salah. Mengetahui akan hal ini dalam hati saya bergidik, “ngeri sekali, mengapa hal seperti ini bisa jadi mata kuliah?”
            “Persiapkan diri anda karena pelajaran ini akan mengorek emosi dan perasaan anda” ucap dosen saya. Mendengar itu perasaan saya semakin campur aduk. Sejujur – jujurnya saya  sungguh sungguh tidak ingin berada di kelas ini. Ini terlalu beresiko untuk dibahas. Saya takut akan apa yang saya akan dengar, saya takut akan apa yang harus saya ucapkan nanti, saya takut ini semua berjalan dengan tidak baik. Mengapa saya berpikiran seperti ini?
                Namun, hari ini ada kejadian di kampus yang membuat saya berpikiran lain. Seorang teman datang kepada saya (seorang muslim) dan berkata “duduk dulu disini”. Saya pun duduk disampingnya.
                “Sudah dengar gereja yang di bom di Solo?”tanyanya serius.
                “iya sudah” jawab saya sambil tersenyum.
                “Lalu apa yang kamu pikir?” dia bertanya lagi.
            Saya hanya tersenyum dan berkata “yasudah , memang sudah terjadi. Tidak ada yang saya pikirkan” Saya melihat wajah teman saya semakin menunjukkan kecemasan.
                Kemudian saya bertanya lagi “memang ada apa?”. 
                “Apa kamu berpikir itu ulah orang muslim?”.
                Sambil menarik nafas saya menjawab “saya tidak berpikir begitu”.
                Mendengar itu dia lega. Dia pun bercerita panjang lebar tentang pendapatnya mengenai bom di Solo itu. Saya tercengang dengan apa yang dia katakan. Ternyata dia peduli terhadap perasaan saya, ini sangat menyentuh saya. Akhirnya saya berucap “senang bisa mendengar ini darimu, terimakasih telah mengatakannya” .
                Apa yang dikatakan teman saya membuat saya merasa damai mendengarnya, lalu saya katakan “Saya tidak tau siapa yang mem-bom gereja di Solo tapi SEKALIPUN  itu adalah seorang muslim saya tau bahwa kejahatan itu datang dari orangnya dan bukan agamanya. Karena semua agama tidak ada yang mengajarkan kejahatan.
                Setelah pembicaraan itu seperti ada letupan letupan kecil di hati saya yang membuat saya merasa bersemangat. Saya berpikir bahwa sebenarnya kami semua saling mengasihi di dalam keberagaman namun kerena perbuatan beberapa pihak yang ingin mengadu domba sering kali membuat ikatan diantara kami semakin renggang bahkan nyaris putus. Ingin sekali saya mendengar kejujuran-kejujuran seperti ini dilain waktu, hal ini membuat saya tidak sabar untuk mengungkapkan bahwa saya juga mengasihi mereka di dalam keberagaman.
                Mungkin kejujuran seperti yang teman saya lakukan akan terlihat saat pelajaran humanistic studies. Melalui mata kuliah ini saya berharap dapat menjadi pribadi yang mampu memahami keberagaman lebih dalam lagi dan menjadikan semua itu sebagai alasan untuk bersatu. Secara umum saya juga berharap akan terjalin keharmonisan yang lebih lagi diantara kita semua.
                Sebagai calon guru masa depan saya juga berharap pengetahuan yang saya dapat di Humanistic Studies dapat membantu saya mengenal lebih dalam mengenai murid-murid saya. Tentu nantinya murid murid saya akan datang dari berbagai agama, suku, dan budaya. Sehingga dengan ilmu yang saya dapat nanti saya berharap nantinya murid saya bisa nyaman dan tidak merasa di beda-bedakan oleh saya.

1 Komentar:

Pada 28 September 2011 pukul 01.06 , Anonymous Anonim mengatakan...

Ada banyak hal yang bisa saya respon.
1. pengalaman sebagai minoritas. Ini merupakan sesuatu yang menarik, saya harap nanti bisa share. Dalam identitas tertentu seseorang bisa menjadi mayoritas, tapi dalam identitas lainnya orang bisa jadi minoritas.
2. Ketakutan terhadap mata kuliah. Apakah dengan tidak membicarakan agama--konon katanya isu sensetif--seluruh masalah hubungan antar agama akan terselesaikan. Kita berbicara agama ini bukan dengan emosi, tapi bermaksud untuk mencari penyelesaian hubungan antar agama tersebut.
Semoga enjoy,
feel free to say/express anything/idea/protest for this class. Do the best for this course

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda