Saya Tuhan dan Agama
Setiap orang memiliki pendapat masing-masing mengenai apa dan siapa itu Tuhan. Bagi saya Tuhan adalah yang membentuk dengan sempurna tiap anggota tubuh saya, meniupkan nafas kehidupan untuk saya, membiarkan saya hidup dengan menguasai emosi dan hati saya sendiri. Mengetahui hal tersebut sangat pantas bagi saya untuk selalu bersyukur disetiap saat, karena saya mampu hidup dengan kebesaran dan kehebatan buatan tanganNya. Ya, saya buatan asli tanganNya. Apakah ada manusia yang membentuk manusia? Atau manusia terbentuk dengan sendirinya? Dengan segala kesempurnaan aliran darah, sistem pencernaan, sistem pernafasan, fungsi otak dan banyak lagi yang terdapat dalam tubuh tiap manusia. Saya yakin saya hadir di dunia bukan dengan ketidak sengajaan namun dengan rencana yang sempurna yang dibuat Tuhan. Tak perlu saya mencari jawaban keberadaan Tuhan hingga jauh menjelajahi dunia karena saya sendiri adalah saksi keberadaan Tuhan, keajaiban terbesar yang Ia buat dan rancang dengan sempurna. Tuhan ada maka saya ada. Ya, bagi saya Tuhan ada. Dengan pengetahuan yang saya dapat setelah mempelajari tentang berbagai agama dan pengertiannya sendiri dalam mata kuliah Humanistic Studies, saya mampu dengan tegas berkata Tuhan itu ada! Dan saya percaya akan keberadaanNya.
Tak dapat dipungkiri saya juga mendapat berbagai perbedaan pendapat tentang keberadaan Tuhan setelah mempelajari tentang filosofi agama yang diberikan oleh para filsuf. Satu pendapat yang ingin saya kutip adalah pendapat mengenai perspektif Tuhan yang dikemukakan oleh Freud mengenai teori psikoanalisisnya. Freud mengungkapkan, Tuhan adalah sosok yang diciptakan oleh seseorang yang tercipta atas ketakutan yang sangat besar akan sesuatu sehingga figur Tuhan tercipta sebagai tempat untuk mengadu. Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Freud, saya melihat kerasionalan yang terdapat di dalamnya. Seringkali manusia merasakan kehadiran Tuhan yang sangat luar biasa ketika suatu kesulitan atau masalah hidup tak mampu lagi dibendung. Tak ada yang mampu mengatakan dengan pasti pendapat Freud benar atau salah. Yang perlu diambil dari apa yang Freud pikirkan dan kemukakan adalah bahwa kehadiran Tuhan memiliki berbagai arti bagi setiap individu manusia. Dan arti dari kehadiranNya bukan suatu hal yang mampu diperdebatkan, namun boleh diungkapkan. Seperti cara Freud berpikir mengenai Tuhan, Salahkah apa yang dipikirkan Freud? Apakah Freud mencoba menantang Tuhan (bagi kita para Theist) dengan kerasionalannya? TIDAK. Tidak ada yang salah dengan rasionalitas manusia, Tuhan yang membiarkan kita mengendalikan hati dan pikiran kita sendiri, pasti ada tujuan kuat mengapa Tuhan membiarkan kita mengendalikan hati dan pikiran kita, dan pasti bukan suatu hal dibuat dengan keisengan semata. Ada keyakinan dalam hati saya bahwa Tuhan ingin dicari, digali tentang keberadaannya, dan dikejar kemisteriusannya. Saya sangat menyukai pernyataan Ahmad Wahib bahwa, “Tuhan bukanlah daerah”. Jika ingin mencari keberadaanNya, maka carilah.
Seperti yang telah saya ungkapkan bahwa saya adalah seorang yang mempercayai Tuhan, yang sampai saat ini masih mengejar keberadaan Tuhan untuk memuaskan keinginan tahuan saya. Setelah saya mempercayai keberadaan Tuhan lalu apa yang saya lakukan? Saya memperlakukan keberadaan Tuhan dengan bersyukur kepadaNya terhadap apa yang sudah diberikan terhadap saya, meminta kebijaksanaan dariNya untuk mampu memakai dan mengatur apa yang sudah dipercayakan Tuhan bagi saya, memanfaatkan dan menggunakan dengan baik apa yang telah saya miliki sekarang, bekerja dengan baik, belajar dengan baik dengan pertimbangan bahwa Tuhan menilai dan melihat setiap pekerjaan yang saya lakukan atas dasar syukur kepada segala pemberianNya.
Bagi saya Tuhan yang dimaksudkan setiap agama dan kepercayaan adalah satu, yaitu Tuhan yang menciptakan manusia. Dalam Kristen disebut Tuhan Yesus Kristus, dalam islam disebut Allah SWT, dalam budha disebut Siddhartha Gautama, dan lain sebagainya. Manusia memberikan nama yang berbeda dan pengajaran yang berbeda mengenai Tuhan. Namun tujuan setiap agama adalah sama, yaitu kepada Dia yang menciptakan manusia, Dia yang menciptakan langit dan Bumi, kepada Dia yang memiliki kuasa atas alam semesta.
Tuhan memang suatu yang tak tersentuh oleh akal dan pemikiran manusia. Saya menggambarkan Tuhan sebagai suatu yang kekal, satu, suci, dan tak tersentuh. Sebenarnya saya tak ingin mendefinisikan Tuhan dengan pemikiran saya, saya ingin mendefinisikannya berdasarkan apa yang telah ukir di dunia yang dapat saya lihat dan temui setiap harinya. Contohnya manusia dengan kehebatan sistem didalam tubuhnya, juga tumbuhan dan hewan, tata surya dengan perputaran planet yang seakan telah diatur berputar dengan sumbu tanpa bertabrakan, dan banyak lagi. Jadi saya mengenal Tuhan dengan apa yang Ia biarkan untuk saya lihat dan saya kenali. Itulah Tuhan.

